TENTRAM MEMAKAI JILBAB
Tadi sudah
dibahas bahawa sebenarnya jilbab itu adalah kewajipan yang harus ditunaikan
oleh keseluruh kaum muslimah. Bukan pilihan kerana merasa sudah siap, atau
alasan lainnya. Kerana saat ini ramai yang belum menggunakannya kerana merasa
lebih baik membenahi diri dulu baru berjilbab. Masalahnya adalah waktu yang
kita tidak tahu sampai bila akan bisa kita jalani. Sementara membenahi diri
adalah kewajiban yang harus kita lakukan setiap saat tanpa ada akhirnya? Apakah
ada seseorang yang merasa dirinya sudah soleh, sudah baik, dan sudah sempurna?
Lalu bila
kita akan menyempurnakan keimanan kita bila terus menerus menggunakan dalih
seperti diatas? Kerana sampai bila kita hidup pun kita tidak akan pernah tahu.
Sementara selama kita hidup, kewajipan kita adalah terus memperbaiki diri,
kerana pada dasarnya manusia tidaklah sempurna. Lalu mereka yang berdalih
memperbaiki diri dulu baru berjilbab atau menunggu datangnya hidayah (padahal
hidayah itu harus dijemput dengan keimanan kita, bukan ditunggu!) bagaimana?
Sempatkah menyempurnakan perintah-NYA?
Jilbab
adalah saksiyyah (jati diri) wanita Islam, mahkota yang harus dijunjung tinggi.
Jika seorang wanita telah memutuskan untuk berjilbab, maka ia harus siap dengan
segala rintangannya atau ujian dari ALLAH. Siap menjaga sikap dan perilakunya.
Ini kerana, jika seseorang wanita berjilbab melakukan hal-hal yang tidak
semestinya, maka yang dituding bukan hanya diri wanita itu, tetapi jilbab dan
Islam. Contohnya, jika seorang wanita berjilbab merokok di tempat umum, maka
masyarakat akan berkata “Tu kan, dah berjilbab tapi merokok?” Jilbab dan Islam
mendapat kesan negatif. Terlepas dari segala pembahasan tentang hak asasi
seseorang untuk bebas melakukan apapun sepanjang tidak mengganggu kepentingan
orang lain, wanita yang telah memutuskan untuk berjilbab hendaknya menjaga adab
perilaku. Kerana ia merupakan jati diri, sudah selayaknya kita menjaga jati diri,
martabat sebagai seorang muslimah tersebut dengan sebaik–baiknya. Tidak
memperlakukannya sesuka hati dan melakukan peraturan sendiri. Ada yang
berjilbab awalnya kerana merasa mendapat hidayah, namun dalam perjalanan
hidupnya ketika merasa kecewa dengan apa yang dialaminya, lalu jilbab pun
dilepaskan. Sayangnya ketika melepasi jilbab yang ada adalah sikap dan perilaku
jahiliyah… Astaghfirullah halazhim.
Wahai para
Muslimah, kita yang dimuliakan ALLAH, bahagialah dengan kemuliaan itu, sudah
selayaknya kita menjaganya dengan segala daya dan upaya. Hanya itu cara kita
mengabdikan diri kepada-NYA, mematuhi perintah-NYA dan Rasul-NYA. Bekali diri
dengan ilmu dan fahaman yang cukup tentang perintah ALLAH yang satu ini.
Luruskan niat untuk berjihad melawan hawa nafsu. Sekali memutuskan berhejab,
yakinlah bahawa kita sudah melakukan sesuatu yang benar dan mohon pada-NYA agar
tetap menjaga hati ini tetap beristiqhamah dalam ketaatan pada-NYA. Ketika kita
sudah memutuskan untuk berhejab, sama artinya kita membeli ‘one way ticket’
don’t look back and cause there’s no way back. Jangan pernah berjalan mundur
dan kembali kepada kejahiliahan diri kita. Tidak ada alasan apapun untuk
menanggalkannya, kerana ALLAH adalah segalanya. Tidak juga kerana masalah
rezeki yang sering membuat orang menanggalkan jilbab demi professionalisme dan
tuntutan pekerjaan. Yakinlah ALLAH sang penjamin rezeki, apabila DIA yang
memerintahkan kita menutup aurat, DIA juga yang akan menjamin rezeki untuk
kita. Jangan pernah meragukan-NYA. Sedikit atau banyaknya rezeki adalah
urusan-NYA. Namun yakinlah apabila kita patuhi-NYA, ALLAH tidak pernah
menyia–nyiakan kepatuhan hamba-hamba-NYA. ALLAH Maha Mengetahui niat yang
terkandung dalam hati para hamba–hamba-NYA.
Jangan
pernah mempermainkan aturan–aturan-NYA. Kita hanya diperintahkan patuh dan
taat, bukan mengganti ketentuan-NYA sesuai dengan yang kita mahukan. “Syurga di
kelilingi oleh sesuatu yang luar biasa sulit, sementara sebaliknya, neraka
justeru di kelilingi segala kemudahan.” Mahu kemana kita nanti, kembali kepada
kita masing–masing dalam mentaati perintah-NYA
Komentar
Posting Komentar